Selasa, 23 Agustus 2016

Mengenal Unsur Penyusun Kalimat

Dalam bahasa Indonesia tentu kita mengenal, apa yang disebut dengan kalimat? Kalimat adalah susunan dari beberapa kata yang memiliki makna. Dalam hal ini kita mengenal istilah kata kerja, kata benda, kata sifat, kata sambung, kata hubung, kata tanya dan sebagainya. Begitupun dengan bahasa Arab, memiliki banyak istilah kata yang kurang lebih sama dengan bahasa Indonesia. Hanya saja dalam bahasa Arab, seluruh kata yang ada bisa dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu Fi'il (kata kerja), Isim (kata benda, kata sifat1), dan Huruf (kata sambung, kata hubung2). Perhatikan contoh kalimat berikut ini:

ِجَاءَ رَجُوْلٌ مِنَ المَدِيْنَة 
(Seorang laki-laki telah datang dari kota)

Kalimat di atas memiliki tiga usur penyusun:
1. Fi'il (kata kerja)
2. Isim (kata benda)
3. Huruf Arab yang memiliki makna

Untuk contoh kalimat di atas, "َجَاء" adalah kata kerja (fi'il), "رَجُوْل" dan "المَدِيْنَة" adalah kata benda (isim) berupa nama orangd dan nama tempat, dan "َمِن" adalah kata depan (huruf). Hanya ketiga unsur ini yang ada pada kalimat bahasa Arab meskipun setiap unsur ini memiliki jenis dan pembagian yang bermacam-macam. Pada kali ini, kita akan mempelajari semua jenis pembagian fi'il, isim, dan huruf yang wajib diketahui dan dipahami oleh para pemula. 


Senin, 15 Agustus 2016

Pengantar Ilmu Nahwu

بسم الله الرحمن الرحيم

Umar Bin Khattab r.a berkata:

تَعَلَّمُوْا العَرَبِيَّةََ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ

"Pelajarilah bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bagian dari agama kalian".

Bahasa Arab memiliki pola kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia. Karena, ia tidak hanya berbicara tentang susunan kata dalam suatu kalimat, tetapi juga berbicara keadaan huruf terakhir dari suatu kata yang ada pada kalimat. Bila keadaan huruf terakhir suatu kata berbeda, maka berbeda pula maknanya. Nah jadi, ilmu nahwu adalah ilmu yang wajib dikuasai untuk bisa memahami kaidah penyusunan kalimat dalam Bahasa Arab, baik yang berkaitan dengan letak kata dalam suatu kalimat atau kondisi kata (harakat akhir dan bentuk) dalam suatu kalimat.
Sebagai contoh dalam basmalah, lafal Allah berharakat kasrah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".

Dalam surah Al Ikhlas, lafal Allah berharakat dhammah:

قُلْ هُوَاللهُ أَحَدٌ (الإخلص :٣ )

"Katakanlah: Dialah Allah, yang Maha Esa". (Al Ikhlas: 1)

Dalam ayat lain, lafal Allah berharakat fathah:

 يأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلوةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّبِرِيْنَ (البقرة: ١٥٣ )

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Al Baqarah: 153)

Selain ilmu nahwu, ilmu penting yang wajib dipelajari untuk pemula adalah ilmu sharaf. Karena dengan memahami dua ilmu ini , kita dapat mengetahui dan memahami bagaimana cara membuat kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab resmi. Adapun bila kita ingin membuat kalimat bahasa Arab yang indah, baik dari susunan, pemilihan kata, dan maknanya, atau tinggi nilai sastranya, maka kita perlu mempelajari cabang bahasa Arab seperti ilmu balaghah (keindahan bahasa), ilmu ma'ani (memahami teks sesuai konteks) dan ilmu 'arudh (syair bahasa Arab).

Imam Asy Syafi'i berkata:

مَنْ تَبَحَّرَ فِي النَّحْوِ اهْتَدَى إِلَى كُلِّ العُلُوْمِ

"Orang yang memahami ilmu nahwu, maka ia akan dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu (islam)"1

Karena itu, marilah kita berdo'a kepada Allah Swt, agar diberi kemudahan dalam mempelajari bahasa Arab dan bisa memahami agama kita dengan baik.